Parenting
Berita Lainnya
Parenting Domby Code: Jangan Sampai Anak Kehilangan Jalan Pulang
Rumah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman, diterima, didengarkan, dan dikasihi. Namun, tidak semua anak yang tinggal bersama keluarganya benar-benar merasakan kedekatan dengan orang tuanya
**YOGYAKARTA, 15 Oktober 2026** – Sebanyak 50 orang tua mengikuti kegiatan Parenting Domby Code yang diselenggarakan pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Edhotel Yogyakarta. Mengangkat tema **“Jangan Sampai Anak Kehilangan Jalan Pulang”**, kegiatan ini mengajak para orang tua untuk merefleksikan kembali pentingnya membangun relasi yang kuat, hangat, dan penuh kasih dengan anak-anak, terutama ketika mereka memasuki masa remaja.
Rumah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman, diterima, didengarkan, dan dikasihi. Namun, tidak semua anak yang tinggal bersama keluarganya benar-benar merasakan kedekatan dengan orang tuanya. Ada remaja yang secara fisik masih berada di tengah keluarga, tetapi secara emosional merasa jauh dan sendirian. Mereka tumbuh di dalam rumah, tetapi tidak selalu memiliki tempat untuk menceritakan pergumulan, menyampaikan perasaan, atau mencari pertolongan ketika menghadapi masalah.
Ketika relasi dengan orang tua tidak terbangun dengan baik, anak dapat kehilangan tempat untuk pulang secara emosional. Mereka mungkin mencari penerimaan, perhatian, dan rasa memiliki di luar rumah, bahkan dari lingkungan yang belum tentu memberikan pengaruh positif bagi pertumbuhan mereka.
Melalui tema ini, para orang tua diajak memahami bahwa menciptakan *home* bukan sekadar menyediakan tempat tinggal, makanan, pendidikan, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. *Home* adalah suasana yang membuat anak merasa memiliki tempat untuk kembali—tempat di mana mereka diterima, didengarkan tanpa terburu-buru dihakimi, berani mengakui kesalahan tanpa takut kehilangan kasih, serta menemukan dukungan ketika menghadapi pergumulan hidup.
**Anak perlu memiliki alasan untuk pulang, bukan sekadar kewajiban untuk pulang.** Alasan itu tumbuh ketika orang tua hadir secara emosional, menyediakan waktu untuk mendengarkan, membangun komunikasi yang terbuka, dan menunjukkan kasih melalui sikap serta tindakan sehari-hari.
Karena itu, orang tua diajak untuk tidak menunggu sampai anak bermasalah baru mulai mendekatinya. Jangan menunggu sampai anak mengalami tekanan emosional, terjerumus dalam pergaulan yang salah, atau memilih menjauh dari keluarga untuk kemudian bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Kedekatan perlu dibangun sejak sekarang, selagi masih ada kesempatan untuk duduk bersama, berbincang, tertawa, mendengarkan cerita sederhana, dan memahami dunia anak yang terus berubah.
**Apakah anak-anak kita merasa nyaman bercerita kepada kita? Ketika mereka mengalami kegagalan atau menghadapi masalah, apakah kita menjadi orang pertama yang mereka cari, atau justru orang yang paling mereka takuti untuk ditemui?**
Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak setiap orang tua untuk berani mengevaluasi diri dan memperbaiki relasi dengan anak. Kesibukan bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga, dan mempersiapkan masa depan anak memang penting. Namun, jangan sampai dalam upaya memberikan yang terbaik bagi anak, orang tua justru kehilangan kesempatan untuk benar-benar hadir dalam kehidupan mereka.
Membangun kedekatan membutuhkan waktu, kesabaran, dan kerendahan hati. Orang tua perlu belajar mendengarkan sebelum menasihati, memahami sebelum menghakimi, serta mengoreksi tanpa merendahkan. Ketika terjadi konflik, orang tua juga perlu berani meminta maaf dan membuka kembali ruang komunikasi. Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna, tetapi mereka membutuhkan orang tua yang mau hadir, terus belajar, dan bersedia membangun hubungan yang sehat.
## Apresiasi untuk Anak Melalui Penampilan Drum
Dalam kegiatan parenting ini, suasana pertemuan juga diwarnai dengan penampilan permainan drum oleh anak-anak Domby Code yang selama ini mengikuti kegiatan pengembangan bakat drum. Penampilan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap usaha, semangat belajar, dan perkembangan keterampilan anak-anak dalam mengembangkan potensi mereka.
Kesempatan untuk tampil di hadapan para orang tua bukan hanya menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga menjadi momen bagi orang tua untuk melihat dan menghargai proses pertumbuhan anak. Setiap anak memiliki potensi yang perlu dikenali, didukung, dan dikembangkan melalui kesempatan belajar yang positif.
Apresiasi seperti ini juga menjadi pengingat bahwa kehadiran orang tua sangat berarti dalam perjalanan anak. Dukungan, perhatian, dan penghargaan terhadap proses yang mereka jalani dapat membantu anak merasa bahwa usaha mereka diperhatikan dan keberadaan mereka bermakna. Anak tidak hanya membutuhkan koreksi ketika melakukan kesalahan, tetapi juga membutuhkan orang tua yang mampu melihat dan merayakan kemajuan mereka.
Kegiatan Parenting Domby Code ini menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya membesarkan anak agar berhasil dalam pendidikan dan kehidupan, tetapi juga membangun hubungan yang membuat mereka memiliki tempat untuk kembali ketika dunia terasa berat. Anak membutuhkan batasan dan arahan, tetapi mereka juga membutuhkan kehangatan, kepercayaan, dan kesempatan untuk didengarkan.
Domby Code mengajak setiap orang tua untuk mengambil langkah nyata dalam menciptakan keluarga yang bukan hanya menjadi tempat tinggal, melainkan juga tempat bertumbuh, berbagi cerita, memperoleh kekuatan, dan menemukan kasih. Jangan menganggap kedekatan dengan anak akan terbangun dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Waktu terus berjalan, anak-anak bertumbuh, dan kesempatan untuk mendampingi setiap tahap kehidupan mereka tidak akan terulang dengan cara yang sama.
**Jangan menunggu sampai anak menjauh untuk mulai mendekat. Jangan menunggu sampai anak berhenti bercerita untuk mulai mendengarkan. Dan jangan menunggu sampai anak kehilangan arah untuk menunjukkan bahwa rumah selalu terbuka baginya.**
Mari menjadi orang tua yang bukan hanya menyediakan jalan bagi anak untuk meraih masa depan, tetapi juga memastikan mereka selalu tahu jalan pulang. Sebab, rumah yang dirindukan bukanlah rumah tanpa masalah, melainkan rumah tempat anak tetap menemukan kasih, penerimaan, dan orang-orang yang bersedia berjalan bersama mereka, bahkan ketika mereka sedang tidak baik-baik saja.
Berita Lainnya